Lestarikan Rumah Adat

Indonesia memiliki keragaman budaya baik bahasa, seni, dan budaya. Salah satu bentuk kekayaan budaya dapat dilihat dalam arsitektur rumah tradisional yang disebut rumah adat, rumah asli dan lain-lain. 

Perkembangan peradaban dan kemajuan teknologi menyebabkan pergeseran-pergeseran nilai kehidupan tradisional. Pembangunan yang tidak memperhatikan pelestarian lingkungan fisik, sosial dan budaya cenderung mengubah artefak bangunan adat/tradisional. 

Hal itu menyebabkan keaslian bentuk dan tatanan bangunan rumah tradisional semakin jarang ditemukan.

JANGAN LUPAKAN
NILAI BUDAYA

Pengembangan arsitektur kota seharusnya juga memperhatikan transformasi nilai-nilai kearifan tradisional ke dalam arsitektur kota dan bangunan masa kini. Sehingga wajah kota memiliki jati diri yang berakar pada budaya dan kondisi alam setempat.

Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat Tongkonan adalah rumah adat adat masyarakat Toraja. Tongkonan berasal dari kata Tongkon yang artinya duduk bersama-sama. Dengan model atap melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (namun saat ini sebagian tongkonan meggunakan atap dari seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Banyaknya tanduk kerbau menunjukkan status sosial si pemilik rumah adat ini. Di dindingnya pun terdapat relik hewan dan tumbuhan yang sangat eksotik.

Rumah Adat Honai

Bentuk rumah adat ini sangat unik, yakni berbentuk seperti kerucut dan dibangun dari material alam berupa jerami. Rumah adat Honai dibedakan menjadi tiga kategori yaitu rumah untuk pria (Honai), wanita (Ebei), dan kandang hewan atau babi (wamai).

Rumah adat honai bagi masyarakat Papua bukan saja menjadi tempat tinggal semata, melainkan juga sebagai tempat pengajaran kehidupan untuk mendidik para pria maupun wanita.

Rumah Adat Omo Sebua

Omo Sebua adalah jenis rumah adat dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Omo sebua adalah rumah adat yang khusus dibangun untuk kepala adat desa dengan tiang-tiang besar dari kayu besi dan atap yang tinggi. Omo sebua didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya dari serangan saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu.

Akses masuk ke dalamnya hanyalah tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Bentuk atap rumah adat ini sangat curam yang dapat mencapai tinggi 16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, Omo sebua pun diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.

RUMAH ADAT
BUDAYA PRIBUMI

Simak berbagai berita dan artikel menarik seputar Kebudayaan dan PARIWISATA INDONESIA disini…